Telpon : (061) 8214878

INFORMASI

Kegiatan Kopertis >> Workshop Peningkatan Akreditasi Institusi bagi Perguruan Tinggi Swasta
Kegiatan Kopertis >> PERINGATAN HARI IBU
Pengumuman >> Undangan Sosialisasi Aplikasi SIVIDa
Pengumuman >> Sertifikat Serdos Tahun 2017 Yang Sudah Bisa Diambil
Pengumuman >> TERBARU | Undangan Sosialisasi Aplikasi SIMBADA (Operator)
Pengumuman >> TERBARU | Undangan Sosialisasi Aplikasi SIMBADA (Pimpinan)
Pengumuman >> Undangan Kegiatan Kirab Kebangsaan Dan Jalan Sehat 2018
Pengumuman >> The 7th Urecal Tahun 2018
Pengumuman >> Informasi Seminar Nasional Teknologi 2018 (SEMNASTEK 2018)
Pengumuman >> Pelatihan SEM dan Metpen Kualitatif

Buka World Post Graduate Expo, Menristekdikti Luncurkan Hybrid Learning Penunjang PJJ


RAKERNAS Kemenristekdikti 2018

  17 May 2018     Vahrun   



JAKARTA – Semarak Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) masih terus digelorakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Menutup rangkaian peringatan yang sudah dilaksanakan sejak dua pekan lalu, Kemenristekdikti yang dikoordinasikan oleh Sekretariat Jenderal berpartisipasi dalam acara World Post Graduate Expo (WPG) Tahun 2018 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) dari tanggal 12-13 Mei. Pada kesempatan ini, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir bersama Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti (sebagai Ketua Panitia untuk Hardiknas 2018) hadir untuk membuka pameran pendidikan yang diikuti baik dari perguruan dalam negeri maupun luar negeri.

 

Menteri Nasir dalam sambutannya mengatakan, Indonesia memiliki banyak generasi muda yang unggul dalam bidang akademik. Oleh sebab itu, negara harus hadir untuk memberikan fasilitas pendidikan tinggi yang optimal.

 

Pertama, yakni dengan meningkatkan akses pendidikan tinggi dan meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) Indonesia yang masih di angka 31,5 persen, yang merupakan Tupoksi dari Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

 

Kedua, adalah memberikan peluang studi melalui program beasiswa, baik di kampus dalam negeri maupun luar negeri, yang merupakan Tupoksi dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptekdikti.

 

“Nilai APK yang masih belum optimal tersebut, artinya masih ada 68,5 persen yang tidak terserap oleh pendidikan tinggi. Bisa karena para pelajar sekolah di luar negeri atau dari SMA langsung bekerja. Untuk itu, Kemenristekdikti saat ini mengembangkan pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi yang sangat maju di era revolusi industri 4.0,” ucap Menteri Nasir, Sabtu (12/5/2018).

 

Mendukung upaya tersebut, Menteri Nasir secara khusus meluncurkan e-learning atau Hybrid Learning melalui Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) Indonesia. Menurut Nasir, selain tantangan teknologi, pendidikan jarak jauh ini juga harus ditunjang dengan modul-modul di e-learning yang sudah di-review dan dinilai. Terkait hal tersebut, selama dua hari ini produk SPADA dari 13 perguruan tinggi juga ikut dipamerkan serta disosialisasikan.

 

SPADA Indonesia memiliki produk mata kuliah yang dapat diakses secara daring yang saat ini SPADA telah menyediakan 4.829 modul Mata Kuliah Daring dan Mata Kuliah Terbuka untuk 776 Mata Kuliah yang ditawarkan oleh 51 Perguruan Tinggi Penyelenggara yang diikuti oleh 14.931 mahasiswa dari 176 Perguruan Tinggi Mitra di seluruh Indonesia.

 

Selanjutnya SPADA Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud, mengembangkan 1.268 modul untuk 53 Mata Kuliah e-learning/Hybrid Learning PPG Dalam Jabatan. Dengan demikian, SPADA Indonesia telah menyediakan 6.097 Modul Daring. Modul ini terbuka untuk dimanfaatkan sebagai mata kuliah daring maupun materi terbuka bagi mahasiswa, dosen perguruan tinggi di Indonesia.

 

Program Unggulan Kemenristekdikti

Selain meluncurkan Hybrid Learning, Menristekdikti juga menyinggung mengenai prestasi ilmuwan Diaspora Indonesia yang sukses meniti karier di luar negeri. Menurutnya, para Diaspora tersebut perlu diajak untuk membangun Indonesia. Hal ini, imbuh Menteri Nasir, dapat dilakukan melalui kolaborasi riset, seperti pada program World Class Professor (WCP).

 

“Kami juga sedang membuat terobosan bagaimana agar Diaspora Indonesia bisa ikut berkontribusi membangun bangsa. Karena umumnya dengan prestasi yang sudah mereka raih, mereka jarang ada yang mau pulang,” tutur Menteri Nasir.

 

Senada dengan Menteri Nasir, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, penyelenggaraan WCP menjadi jembatan para Ilmuwan Diaspora untuk bekerja sama dengan dosen dalam negeri untuk menghasilkan publikasi internasional. Di sisi lain, Indonesia saat ini masih memerlukan lulusan Doktor yang mampu meningkatkan daya saing bangsa.

 

“Kami memiliki program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) untuk mencetak dosen berkualifikasi Doktor dalam waktu empat tahun studi. Hasilnya, sangat menggembirakan, salah satu yang jebolan program ini adalah Grandprix yang menjadi Doktor termuda di Indonesia. Bahkan, para lulusan PMDSU bisa menghasilkan hingga sembilan publikasi, tidak kalah kualitasnya dengan lulusan kampus luar negeri,” papar Dirjen Ghufron.

 

Berbagai program lainnya, utamanya untuk peningkatan kualifikasi dosen, seperti Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI), Beasiswa Afirmasi PTNB, hingga proses pengajuan registrasi pendidik dapat ditanyakan langsung di booth Kemenristekdikti. Tak hanya itu, terdapat pula program-program dan layanan yang dilakukan oleh unit-unit utama Kemenristekdikti lainnya, yang dipamerkan secara terintegrasi oleh Bagian Publikasi dan Dokumentasi, Biro Kerjasama dan Kompublik, Sekretariat Jenderal Kemenristekdikti. Unit kerja ini telah laman menjalin kerjasama dengan My Study World, Raphael Michael Tan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan suksesnya penyelenggaraan pada tahun sebelumnya, maka pameran ini dikembangkan dengan mitra yang lebih luas.

 

“Acara hari ini merupakan salah satu wujud kolaborasi di mana sektor privat turut berkontribusi memberikan informasi kepada masyarakat luas terkait pendidikan tinggi. Saya harap hal ini bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh masyarakat. Begitu juga bagi para staf Kemenristekdikti juga dapat memberikan pelayanan yang baik,” ujar Dirjen SDI Ghufron sebagai Ketua Hardiknas 2018.

 

Acara World Post Graduate Expo tahun ini menghadirkan 52 institusi yang berasal dari Belanda, Cina, Jerman, Indonesia, Irlandia, Malaysia, Singapura, Spanyol, Taiwan, Inggris, Swedia, Amerika Serikat, Eropa, dan Prancis. Kehadiran Perguruan Tinggi asing dalam pameran ini rutin diadakan tiap tahun, akan tetapi menjadi khusus pada tahun ini karena pelaksanaannya dikaitkan dengan pelaksanaan Hardiknas 2018.

 

Selain itu, banyak program magister (S-2), doktoral (S-3), dan program lainnya yang ditawarkan selama acara pameran berlangsung oleh Direktorat Jenderal Sumberdaya Iptek Dikti Kemenristekdikti.

 

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik

 


Read more at https://ristekdikti.go.id